Bayangkan kamu lagi cari ojek online, eh muncul tawaran:
“Pakai GoPayLater, belanja sekarang bayar nanti!”
Terdengar seperti sahabat sejati saat dompet lagi kosong. Tapi jangan senang dulu, bisa jadi ini teman yang ngajak liburan tapi lupa bilang kalau kamu yang bayar semua.
Dulu katanya dikelola PT Mapan Global Reksa. Sekarang? Sudah pindah tangan ke PT Multifinance Anak Bangsa (PT MAB).
Kesan pertama: “Wah, perusahaan dalam negeri, nasionalis dong!” Tapi setelah beberapa tagihan dan denda datang… kita mulai bertanya: nasionalis untuk siapa?
Surat-suratnya legal, OJK mengawasi. Tapi etikanya? Kadang bikin kita merasa seperti pelanggan di pasar gelap — terang di atas, remang-remang di bawah.
Awalnya kamu dikirimi notifikasi penuh cinta:
“Limit GoPayLater kamu sudah aktif, yuk belanja!”
Tapi begitu lewat sehari dari tanggal jatuh tempo, notifikasinya berubah:
“Bayar sekarang juga! Denda menanti!”
Ini seperti pasangan yang sah di KUA, tapi toxic di rumah tangga.
GoPayLater dan kawan-kawannya seperti sengaja menyasar generasi yang belum sepenuhnya paham tentang literasi keuangan. Yang penting bisa checkout, soal bunga 2.5%, denda harian, dan sistem pembulatan ‘kreatif’, itu urusan nanti.
Masalahnya: banyak yang baru sadar setelah tagihan membengkak seperti mimpi buruk cicilan tanpa akhir.
Apakah rincian biaya dan bunga tersedia? Secara teknis, ya. Apakah mudah ditemukan dan dipahami? Itu relatif.
Kalau informasi biaya harus dicari-cari ke halaman FAQ yang tersembunyi, itu bukan transparan. Itu main petak umpet.
PT MAB mungkin punya izin OJK. Tapi kalau pengalaman pengguna membuat orang merasa ‘dipermainkan’, ya sama aja bohong.
Jangan sampai kata “legal” jadi tameng untuk sistem yang ujung-ujungnya bikin masyarakat terjerat. Karena sejatinya, paylater itu bukan kejahatan. Tapi pengguna yang kurang informasi bisa jadi korban dari sistem yang terlalu lihai.
Ingat: tidak semua yang legal itu otomatis adil. Dan tidak semua yang bisa dipakai harus langsung dicoba.
GoPayLater mungkin sah secara hukum, tapi soal etika… masyarakat yang menilai.
Disclaimer: Artikel ini adalah curhatan publik yang dibumbui satire. Kalau kamu belum pernah berurusan dengan paylater, semoga ini jadi vaksin finansial sebelum terlambat.
Bantu kami terus berbagi konten dan proyek pembelajaran digital gratis!
Terima kasih sudah mendukung ruang belajar digital! 🙏