Program Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) seharusnya menjadi jalan terang bagi para guru honorer menuju status ASN. Namun di balik euforia kelulusan PPPK di berbagai daerah, masih ada satu persoalan yang terus berulang dari tahun ke tahun: formasi PPPK di daerah terpencil sering kali kosong tanpa pelamar.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di provinsi besar seperti Lampung, Jawa Barat, atau Sulawesi, tetapi hampir di seluruh Indonesia. Padahal, formasi tersebut menawarkan peluang besar, karena persaingannya jauh lebih sedikit dibanding wilayah perkotaan.
Lalu, mengapa posisi di daerah terpencil begitu sulit terisi? Mari kita bahas secara mendalam — dari sisi kebijakan, kondisi lapangan, hingga peluang karier jangka panjang.
Setiap tahun, Kementerian PANRB dan Kemendikbudristek membuka ribuan formasi PPPK untuk daerah kategori 3T (Terdepan, Terpencil, dan Tertinggal).
Formasi ini biasanya diperuntukkan bagi:
Guru SD, SMP, dan SMA di wilayah terpencil
Tenaga kesehatan di puskesmas daerah
ASN fungsional di kecamatan jauh dari ibu kota kabupaten
Namun data BKN tahun 2024 menunjukkan bahwa dari lebih dari 45.000 formasi daerah 3T, hanya sekitar 38% yang terisi penuh. Artinya, lebih dari 25.000 formasi PPPK di daerah terpencil tidak memiliki pelamar sama sekali.
Banyak wilayah 3T sulit dijangkau — membutuhkan waktu berjam-jam atau bahkan berhari-hari untuk sampai ke lokasi.
Contohnya:
Sekolah di pulau kecil yang harus ditempuh dengan perahu.
Daerah pegunungan yang akses jalannya rusak parah.
Guru yang sudah berkeluarga atau tinggal di kota cenderung berpikir dua kali untuk mengambil risiko ini.
Meski ada tunjangan khusus daerah terpencil, kenyataannya biaya hidup bisa lebih tinggi karena harga bahan pokok dan transportasi.
Selain itu, keterbatasan fasilitas seperti listrik, jaringan internet, dan air bersih juga menjadi faktor penentu.
Banyak guru honorer sudah menetap di kota atau kabupaten asal. Ketika formasi yang dibuka jauh dari tempat tinggal, mereka memilih tidak mendaftar karena sulit meninggalkan keluarga, terutama bagi yang sudah berkeluarga.
Tidak semua guru mengetahui bahwa formasi PPPK di daerah terpencil justru memiliki peluang lolos lebih besar.
Kurangnya sosialisasi dari pemerintah daerah atau Dinas Pendidikan menyebabkan banyak guru hanya melamar ke kota besar, di mana saingan justru jauh lebih banyak.
Beberapa peserta khawatir akan “terjebak” di lokasi terpencil tanpa kepastian mutasi. Padahal, sistem mutasi antar-daerah sudah mulai diatur dalam Revisi UU ASN 2023, namun sosialisasinya belum merata.
Menurut laporan Kemendikbudristek (2024):
Rasio guru di kota besar mencapai 1 guru per 18 siswa.
Di daerah terpencil, bisa mencapai 1 guru per 56 siswa.
40% sekolah di wilayah 3T masih bergantung pada guru honorer non-PPPK.
Artinya, meskipun formasi tersedia, distribusi guru ASN belum seimbang karena minat pelamar rendah di daerah terpencil.
Beberapa guru yang pernah ditempatkan di daerah terpencil mengungkapkan tantangan sekaligus maknanya:
“Saya dulu ditempatkan di sekolah pinggir pantai Lampung Timur. Awalnya berat, tapi justru di sana saya belajar arti pengabdian.”
— Rina, Guru PPPK Matematika 2023
“Internet terbatas, tapi murid-muridnya semangat. Saya merasa dibutuhkan.”
— Andri, Guru Bahasa Indonesia PPPK 2024, Pesisir Barat
Testimoni seperti ini menunjukkan bahwa walau banyak tantangan, daerah terpencil memberi pengalaman mengajar yang berharga dan peluang kontribusi nyata.
Banyak calon pelamar belum menyadari bahwa daerah terpencil sebenarnya menawarkan sejumlah keuntungan jangka panjang:
| Keuntungan | Penjelasan |
|---|---|
| Tunjangan Khusus | Guru di daerah 3T mendapatkan tunjangan hingga 2x gaji pokok (berdasarkan PP No. 41 Tahun 2009). |
| Peluang Lolos Lebih Besar | Saingan lebih sedikit, bahkan di beberapa daerah hanya 1–2 pelamar per formasi. |
| Nilai Tambah Pengalaman | Pengalaman mengajar di 3T sangat dihargai dalam seleksi jabatan fungsional dan kenaikan pangkat. |
| Peluang Mutasi Lebih Cepat | ASN di 3T biasanya mendapat prioritas mutasi setelah 3 tahun masa kerja. |
| Kontribusi Nyata bagi Pendidikan | Anda membantu mewujudkan pemerataan pendidikan nasional. |
Pemerintah melalui Kemendikbudristek dan BKN telah menyiapkan beberapa langkah untuk mengatasi minimnya pelamar di daerah 3T:
Pemberian insentif tambahan berbasis lokasi.
Akomodasi transportasi dan tempat tinggal bagi guru baru.
Program “Guru Digital 3T”, yaitu kombinasi pembelajaran daring dan tatap muka untuk daerah sulit akses.
Sistem mutasi terbuka berbasis skor kinerja (mulai berlaku 2026).
Kerjasama dengan Pemda dan LPMP untuk memperluas sosialisasi formasi PPPK.
Jika Anda berniat mencoba formasi PPPK di daerah terpencil, berikut strategi agar lebih siap:
Pelajari kondisi daerah tujuan lebih dulu (akses, fasilitas, biaya hidup).
Siapkan mental dan fisik — adaptasi lingkungan bisa jadi tantangan utama.
Bangun jaringan guru daerah 3T lewat forum MGMP, IGI, atau Telegram PPPK.
Kuatkan niat pengabdian. Guru di daerah terpencil sering menjadi tumpuan harapan murid dan masyarakat setempat.
Gunakan pengalaman tersebut sebagai batu loncatan karier ASN.
Sepinya peminat bukan berarti tidak ada harapan. Justru di daerah-daerah inilah semangat sejati guru diuji.
Bagi banyak guru PPPK yang akhirnya menerima penempatan di 3T, pengalaman itu menjadi pintu pembuka untuk karier ASN yang stabil dan bermakna.
Karena pada akhirnya, menjadi guru bukan hanya soal status atau tunjangan, tapi juga tentang menyalakan cahaya ilmu di tempat yang paling gelap sekalipun.
Formasi PPPK di daerah terpencil memang masih sepi peminat, tetapi justru menyimpan peluang emas bagi guru honorer yang berani mengambil langkah.
Dengan persiapan matang, dukungan pemerintah yang semakin baik, serta komitmen untuk mengabdi, formasi 3T bisa menjadi jalur cepat menuju ASN sekaligus ladang pahala bagi para pendidik sejati.
“Mungkin tempatnya jauh, tapi dampaknya dekat — langsung ke masa depan anak bangsa.”
Bantu kami terus berbagi konten dan proyek pembelajaran digital gratis!
Terima kasih sudah mendukung ruang belajar digital! 🙏