Kalau kamu siswa SMA/SMK yang sedang belajar Informatika, pasti pernah mendengar istilah algoritma dan flowchart. Dua konsep ini merupakan fondasi utama dalam dunia pemrograman dan logika komputer.
Meski terlihat sederhana, banyak siswa masih bingung bagaimana cara menyusun algoritma dengan benar atau membaca flowchart dengan cepat. Padahal, materi ini hampir selalu muncul di ujian akhir semester maupun ujian kompetensi SMK.
Artikel ini akan membimbing kamu memahami dari dasar — mulai dari pengertian, simbol flowchart, cara membuat algoritma, hingga latihan soal yang sering keluar.
Secara sederhana, algoritma adalah langkah-langkah sistematis untuk menyelesaikan suatu masalah.
💡 Contoh sederhana:
Untuk membuat secangkir kopi, langkahnya adalah:
Siapkan air panas.
Masukkan kopi ke dalam gelas.
Tuang air panas.
Aduk rata.
Sajikan.
Langkah di atas adalah algoritma kehidupan sehari-hari.
Dalam informatika, algoritma digunakan agar komputer bisa memahami urutan perintah logis untuk menyelesaikan suatu tugas.
Jelas dan Tidak Ambigu — setiap langkah mudah dipahami.
Terurut — memiliki awal dan akhir yang pasti.
Efisien — tidak terlalu panjang, tapi menyelesaikan masalah dengan tepat.
Dapat Dijalankan — bisa diterjemahkan ke bahasa pemrograman.
Menghasilkan Output — ada hasil akhir yang diinginkan.
Dalam Informatika SMA/SMK, algoritma biasanya ditulis dalam tiga bentuk:
Deskriptif (narasi langkah)
Ditulis seperti kalimat biasa.
Contoh:
Hitung luas persegi panjang dengan cara mengalikan panjang dan lebar.
Pseudocode (kode semu)
Menggunakan format mirip kode, tapi masih bahasa manusia.
Contoh:
Input panjang, lebar Luas ← panjang * lebar Output Luas
Flowchart (bagan alur)
Menggunakan simbol grafis untuk menggambarkan proses.
Kita bahas lebih dalam di bagian berikut.
Flowchart adalah diagram yang menggambarkan alur kerja dari suatu algoritma menggunakan simbol-simbol tertentu.
Tujuannya agar alur logika program lebih mudah dipahami secara visual.
| Simbol | Nama | Fungsi |
|---|---|---|
| ⭘ / ⬚ | Terminator (Start/End) | Menandakan awal atau akhir proses |
| ⬒ | Input/Output (Parallelogram) | Untuk memasukkan data atau menampilkan hasil |
| ⬛ | Process (Persegi panjang) | Menunjukkan proses perhitungan atau langkah logika |
| ⧫ | Decision (Belah ketupat) | Untuk percabangan kondisi (if/else) |
| ⬇️ | Flow line (Panah) | Menunjukkan arah alur proses |
Langkah algoritmanya:
Input bilangan.
Jika bilangan mod 2 = 0 → Genap.
Jika tidak → Ganjil.
Cetak hasil.
Flowchart-nya kira-kira seperti ini:
Start ↓ Input bilangan ↓ bilangan mod 2 = 0 ? → Ya → Tampilkan "Genap" → Tidak → Tampilkan "Ganjil" ↓ End
Dari algoritma dan flowchart tadi, berikut versi kodenya:
bilangan = int(input("Masukkan angka: "))
if bilangan % 2 == 0:
print("Bilangan Genap")
else:
print("Bilangan Ganjil")
Tuliskan algoritma dan flowchart untuk menghitung luas lingkaran.
(Diketahui rumus: L = π × r²)
Jawaban:
Algoritma:
Mulai.
Input jari-jari (r).
Hitung luas = 3.14 × r × r.
Cetak hasil luas.
Selesai.
Flowchart-nya:
Start ↓ Input r ↓ L ← 3.14 × r × r ↓ Output L ↓ End
Buat algoritma untuk menentukan nilai tertinggi dari tiga bilangan!
Jawaban:
Algoritma:
Input A, B, C
Jika A > B dan A > C → Cetak A terbesar
Jika B > A dan B > C → Cetak B terbesar
Jika tidak → Cetak C terbesar
Flowchart-nya:
Start ↓ Input A, B, C ↓ A > B dan A > C ? → Ya → Output A → Tidak → B > C ? → Ya → Output B → Tidak → Output C ↓ End
Langkah algoritma tidak berurutan.
Contoh: menampilkan hasil sebelum perhitungan selesai.
Flowchart tidak memiliki “Start” atau “End”.
Ini fatal — karena setiap algoritma harus punya titik awal dan akhir.
Terlalu banyak langkah tidak penting.
Algoritma harus efisien — cukup fokus pada inti penyelesaian masalah.
Lupa memberi tanda panah arah alur.
Membuat flowchart jadi membingungkan dan sulit dibaca.
Gunakan analoginya kehidupan sehari-hari.
Misalnya: “Proses memasak”, “Menyetrika baju”, atau “Menabung uang”.
Semua bisa dijadikan contoh algoritma.
Biasakan menulis pseudocode dulu.
Sebelum menggambar flowchart, tulis dulu langkah-langkahnya.
Gunakan aplikasi pembuat flowchart gratis, seperti:
draw.io
Lucidchart
diagrams.net
Figma (gunakan shape flowchart)
Latih logika dengan mini project Python.
Misalnya: menghitung luas bangun, menghitung nilai rata-rata, atau menentukan kelulusan.
Deskripsi:
Buat program untuk menentukan kelulusan siswa dengan aturan:
Nilai ≥ 75 → “Lulus”
Nilai < 75 → “Tidak Lulus”
Algoritma:
Mulai.
Input nama dan nilai siswa.
Jika nilai ≥ 75 → cetak “Lulus”.
Jika tidak → cetak “Tidak Lulus”.
Selesai.
Python code:
nama = input("Masukkan nama siswa: ")
nilai = int(input("Masukkan nilai: "))
if nilai >= 75:
print(nama, "dinyatakan LULUS")
else:
print(nama, "TIDAK LULUS")
Algoritma dan flowchart bukan hanya untuk siswa Informatika, tapi juga fondasi berpikir logis di dunia teknologi.
Dengan memahami keduanya, kamu:
Bisa menulis program dengan alur jelas.
Meminimalisir kesalahan logika.
Lebih siap menghadapi soal ujian akhir dan asesmen kompetensi.
Kuncinya: pahami logikanya, bukan hafalan simbolnya.
Coba buat flowchart dan pseudocode untuk program berikut:
“Menentukan bilangan terbesar dari empat angka.”
Bantu kami terus berbagi konten dan proyek pembelajaran digital gratis!
Terima kasih sudah mendukung ruang belajar digital! 🙏